GIZI DAN IMAN: JANGAN CUMAN KENYANG, TAPI SEHAT DAN BERNILAI IBADAH
By: Putri Nur Khasanah
Sesuatu
yang sering banget kita lakukan… tapi jarang kita pikirkan dalam kacamata iman.
Yaitu…
cara kita makan.
Karena
banyak di antara kita makan asal kenyang, tapi lupa:
Apakah makanan
ini menyehatkan?
Dan yang
lebih penting: Apakah aktivitas makan ini bisa bernilai ibadah?
Dalam
Islam, makan bukan cuma untuk memuaskan rasa lapar. Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah
anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perutnya…” (HR. Tirmidzi)
Beliau
juga hanya makan secukupnya, dan berhenti sebelum kenyang.
Artinya,
Islam mengajarkan keseimbangan. Kita tidak diajarkan untuk hidup agar makan,
tapi makan agar bisa hidup dan beribadah.
Allah juga
berfirman dalam Al-Qur’an:
“Makan dan
minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)
Kita hidup
di zaman serba cepat.
Mau makan
tinggal klik.
Cepat,
praktis, murah.
Tapi kita
sering lupa,
yang kita
masukin ke tubuh itu…
bisa jadi
sumber keberkahan, atau sumber penyakit.
Allah SWT
berfirman:
“Makanlah
dari rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu dan janganlah kamu
melampaui batas…” (QS. Thaha: 81)
Makanan
bergizi adalah bagian dari rizqan thayyiban – rezeki yang baik.
Kalau kita
memilih makanan yang menyehatkan – seperti sayur, buah, biji-bijian, dan lauk
yang halal dan bergizi – itu artinya kita sedang bersyukur. Dan syukur itu
bernilai ibadah!
Rasulullah
SAW bersabda:
“Sesungguhnya
badanmu punya hak atasmu.” (HR. Bukhari)
Menjaga
kesehatan bukan cuma soal duniawi.
Tubuh
sehat itu penting supaya kita bisa beribadah dengan optimal.
Bayangkan
kalau karena makanan tidak sehat, kita mudah sakit, berat beribadah, malas,
bahkan susah shalat. Maka menjaga gizi itu bagian dari menjaga amanah Allah.
Nah,
sekarang pertanyaannya:
Sebenernya
gimana sih pola makan dan gizi yang seimbang menurut Islam?
Nabi
Muhammad SAW sudah kasih teladan.
Pola makan
beliau itu sederhana, tapi luar biasa seimbang.
Beliau
makan makanan yang:
• Halal
dan thayyib
•
Mengandung unsur karbohidrat, protein, lemak, dan serat alami
• Dan
dimakan secukupnya, dengan adab yang baik
Jadi ini
bukan tentang makanan yang mewah, atau yang kaya nutrisi modern.
Tapi
tentang keseimbangan, kesederhanaan, dan keberkahan.
Lalu,
gimana gizi seimbang menurut Islam?
Rasulullah
SAW makan dengan seimbang,
sederhana,
tapi berkah.
Rasulullah
SAW terbiasa makan kurma, madu, susu, air putih, roti gandum, dan minyak
zaitun.
Kita bisa
mencontoh pola makan beliau dalam versi modern, seperti:
• Sarapan
dengan buah dan air putih
• Makan
siang dengan nasi secukupnya, sayur, dan lauk bergizi
• Makan
malam ringan
Dan jangan
lupa: makan dengan adab Islam – duduk, baca basmalah, tidak terburu-buru, dan
berhenti sebelum kenyang.
Zaman
sekarang, kita bisa sesuaikan:
Piring
kita isinya bukan cuma nasi dan lauk,
tapi juga
sayur dan buah.
Kurangi
gula berlebihan, gorengan, dan makanan instan.
Perbanyak
air putih.
Dan jangan
lupa, makan sambil duduk, pelan-pelan, sambil bersyukur.
Makan bisa
jadi ibadah – jika diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah.
Bukan
hanya sekadar kenyang, tapi sehat, penuh syukur, dan sesuai ajaran Nabi.
Jadi mulai
sekarang, mari kita ubah mindset:
“Aku makan
bukan cuma karena lapar, tapi karena ingin sehat dan dekat dengan Allah.”
Mulai
sekarang,
jangan
cuma kejar kenyang.
Tapi kejar
keberkahan.
Jangan
cuma asal enak.
Tapi
pastikan halal dan thayyib.
Dan
jadikan makan sebagai jalan menuju ridha Allah
Comments
Post a Comment